TRAGEDI TAKUR TULUNG TUMPUK

Sesuatu yang tak disangka-sangka bisa terjadi kapanpundan dimanapun, tanggal 9 Oktober 2010 jam 3.00 pagi terdengar bunyin tet-tet-tet di bird park Liberty Bird Farm….. Jam 05.30… bulu berwarna hijau berhamburan dari salah satu sangkar. Ternyata sebagian bulu burung langka Takur Tulung Tumpuk (Megalaima Javensis) telah rontok dan ada luka di paha kanannya.  Bango Tong-tong yang biasanya jinak dan bersahabat tiba- tiba pada jam 3.00 pagi menyerang burung tersebut pada saat tidur. Kami sudah berusaha mengobatinya, tapi rupanya trauma dengan Bango Tong-tong belum juga hilang. Akhirnya tanggal 10 Oktober 2010 Bango Tong-tong kami ungsikan ke hotel kami yaitu Moga Indah Liberty Hotel 43 km dari Pemalang. Saat ini Takur Tulung Tumpuk masih dalam perawatan. Kami mohion do’a dari kicau mania semoga Takur Tulung Tumpuk bisa segera fit lagi, karena burung aneh ini salah satu burung yang hampir punah.

Advertisements

KRITERIA PENILAIAN LOMBA BURUNG

Suatu perlombaan (lomba atau kontes) apapun jenisnya, pasti ada juri yang menilai dan pasti juga ada standard penilaiannya. Begitu juga halnya dengan Kontes Burung Berkicau atau yang lebih kita kenal dengan Lomba Burung Berkicau.

Penghobi Burung yang mulai menapakkan kakinya di Lapangan Lomba (Arena Lomba), disamping harus berkonsentrasi membentuk gacoannya agar tampil bagus di lomba, sebaiknya juga harus mengetahui apa saja yang menjadi Kriteria Dasar Penilaian Lomba Burung Berkicau. Hal ini menjadi hal yang sangat penting, agar rekan-rekan pelomba bisa mem-fokuskan perawatan burung (gacoan) pada point-point utama yang menjadi penilaian.

Ada 3 Kriteria Dasar Penilaian Lomba Burung Berkicau yang sudah sejak lama disepakati bersama,  yaitu:

1. Irama dan Lagu (ini menjadi penilaian yang utama)

Irama lagu adalah suatu bunyi yang memiliki alunan nada dengan tempo ketukan yang teratur dan serasi. Irama lagu meliputi kombinasi naik turunnya nada, kombinasi panjang pendeknya nada dan permainan speed irama yang menjadi harmoni selaras (suatu lagu) yang enak didengar (tidak fals). Irama lagu yang baik adalah irama lagu yang lengkap (bervariasi, keaktifan bunyi  atau gacor, ada tonjolan, permainan speed ritme lagu, spasi nada, isian-isian yang sesuai dengan nada-nada yang lain, tidak terpotong-potong dan tidak diulang-ulang). Irama lagu juga harus membentuk keserasian bunyi yang harmonis. Disamping itu, burung harus rajin melantunkan irama-irama lagu yang memukau sewaktu Lomba. Terlalu lama ngetem dan sering ngetem (kurang rajin berkicau), menjadi salah satu aspek penilaian di point ini.

2. Volume dan Suara (suara harus bersih, nyaring dan lantang)

Volume suara disini bukanlah berarti “peak power” atau hanya kerasnya bunyi suara burung, tetapi lebih menitik beratkan kepada kualitas suara burung. Bukan volume suara yang paling keraslah yang baik, tetapi harus ada unsur-unsur lainnya seperti kemerduan suara. Kualitas volume suara burung yang baik adalah suara burung yang empuk (medium) tidak cempreng, suaranya bersih (kristal) tidak parau dan bersuara nyaring (lantang).

3. Fisik dan Gaya (burung tampil dengan baik dan menarik)

Penilaian Fisik dan Gaya Burung meliputi;

3.1 Untuk penilaian Fisik dapat dilakukan dengan penglihatan secara langsung. Yaitu burung harus sehat, tidak ada cacat (burung dalam kondisi utuh), warna bulu burung yang baik dan sempurna (bulu tidak kusam) dan lainnya yang bisa terlihat.

3.2 Untuk penilaian Gaya, ini sangat dinamis tergantung masing-masing karakter jenis burung. Tapi intinya, burung bunyi (berkicau) di atas tangkringan dan tampil menarik sewaktu berkicau.

Sebagai contoh

Kalau hanya bisa berteriak dan bersuara keras saja, belum tentu bisa bernyanyi dengan baik (belum tentu enak membawakan lagu). Contohnya seorang sahabat saya yang kerjanya sebagai Kernet Bis, teriakannya sangat lantang..!! Bentakannya bikin jantung mau copot.! Tapi kalau dia nyanyi..?? Hahaha… Semua orang protes… Lagunya sangat tidak enak di kuping… Hehehehe..
Sebaliknya, Vina Panduwinata memang tidak punya “peak power” seperti teman saya yang Kernet diatas, tapi nyanyiannya bisa membius siapapun yang mendengarnya. Sudah mengerti yang saya maksudkan..??

Kesimpulan

Lomba Burung Berkicau adalah Lomba Burung Bernyanyi (Berkicau). Lomba Burung Berkicau bisa diartikan juga Lomba Seni Suara Burung. Tentunya yang menjadi penilaian paling utama adalah kualitas berkicaunya (irama lagu) burung. Bukan gaya jogetnya burung, bukan kandang burung yang bikin mata silau dan bukan apa/siapa pemilik burung tersebut.

Dari paparan diatas, hal terpenting yang harus kita perhatikan untuk mencetak burung yang berprestasi di Arena Lomba, adalah aspek kualitas irama lagu. Irama lagu burung yang menawan, tidak muncul tiba-tiba dengan sendirinya, burung harus di master secara tepat.

Catatan

Untuk dapat mengoptimalkan 3 Kriteria Dasar Penilaian diatas, memang selayaknya Lomba Burung Berkicau adalah LOMBA TANPA TERIAK. Agar kualitas irama lagu burung-burung yang di lombakan, benar-benar dapat (dan bisa) di analisa dan dinilai secara baik oleh para juri.

Sumber Tulisan : Bird Club

Mixed Mastering Menjadikan Murai LUAR BIASA!

Mixed Mastering, atau memaster burung secara campuran, adalah memastrer burung dengan menggunakan dua media, yaitu menggunakan suara burung asli dan CD Mastering. Liberty Bird Farm mencoba dua cara itu sebagai bahan experimen pada anakan Komando yang didapat dari Black Bird Keeping Cilacap. Pemasteran anakan Komando ini dilakukan dengan dua cara seperti di atas, dengan cara sebagai berikut :

a. Malam Hari

  1. Diperdengarkan brain wash sonar therapy dari smartmastering selama 30 menit
  2. Dimaster dengan mix sound dari suara alap-alap, branjangan, lovebird, kenari, cucak jenggot, cililin, gereja menggunakan media Laptop.

b. Siang Hari

  1. Diperdengarkan brain wash sonar therapy
  2. Dimaster dengan suara burung asli yaitu, jalak suren, ciblek dan pentet yang full isian.

Hasilnya : LUAR BIASA

Anakan Komando (usia 4 bln) bisa mengeluarkan varian suara yang cukup banyak, dan ada banyak tonjolan (Jalak Suren dan Alap-alap) dan banyak tembakan kenari, love bird dan ciblek. Saya jadi ingat tulisan Om Duto, bahan yang baik dengan polesan yang benar akan menghasilkan burung yang luar biasa. Sayangnya Video caught yang diambil belum dapat diproses, Insya Allah pada postingan berikut saya tampilkan video anakan Komando via You Tube.

Semoga anakan Komando yang berasal dari Indukan Jawara bisa menjadi jawara di masa-masa mendatang.

BANGO TONTONG SATU SPESIES YANG PERLU DILESTARIKAN

Kami tidak tahu persis mengapa setelah postingan tentang burung Takur Tulungtumpuk dan Blackbird, ternyata Burung Bango Tontong juga merupakan burung lamngka yang didapat oleh Liberty Bird Farm. Alhamdulillah, karena memang tujuan penangkaran burung di Liberty Bird Farm adalah untuk melestarikan, jadi burung- burung langka tersebut kami rawat dengan sebaik-baikinya, bahkan saat  ini fokus menangkar Murai Batu dan Love Bird sementara jadi terpecah dengan kedatangan ketiga burung langka tersebut. But Everything is still running well.

Berikut uraian tentang Bango Tontong yang kami dapat dari Semarang Bird Web.

BANGO TONTONG / LESSER ADJUTANT

(Leptotilos Javanicus/Ciconiidae)

_

_

Tubuh berukuran sangat besar (110 cm).

Warna hitam dan putih dengan paruh sangat besar. Sayap, punggung, dan ekor hitam. Tubuh bagian bawah dan kalung putih. Kepala botak, dengan bulu kapas putih halus pada mahkota. Leher dan tenggorokan merah jambu. Tidak memiliki kantung tenggorokan. Terbang melayang di ketinggian, dalam kelompok kecil, bersama bangau lain, atau dengan elang.

Makanan: ikan, katak, kepiting, reptil, serangga, mamalia kecil. Bersarang dalam koloni di daerah berhutan. Sarang dari tumpukan ranting yang padat.

Telur berwarna putih tersapu biru, jumlah 3 butir.

Berbiak bulan Februari, Maret, Mei-Agustus.

Habitat

Habitat : Sawah, padang rumput terbuka, gosong lumpur, mangrove.

Penyebaran

Penyebaran : India, Cina selatan, Asia tenggara, Sunda Besar.
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali.

Status : Pengunjung. Rentan. Jumlah sangat sedikit dan frekuensi sangat jarang. Peringkat perjumpaan: (5) sangat sulit.

Takur Tulungtumpuk Burung Langka

Burung yang disebut sebagai cucak raja pada postingan kemarin, ternyata adalah Takur Tulangtumpuk (megalaima javensis) atau black bandet barbet. Burung ini menurut Semarang Bird Web adalah jenis burung yang hampir punah.  Liberty Bird Farm sangat bersyukur mendapat koleksi burung ini. Bagaimanapun hal ini sesuai dengan visi dan misi Liberty Bird Farm yaitu melestarikan fauna Indonesia terutama Jenis Burung. Dibawah ini ulasan yang diperoleh dari Semarang Bird Web:

Karakter
Tubuh berukuran agak besar (26 cm).
Berwarna-warni. Bulu dewasa biasanya hijau polos. Mahkota kuning. Bintik kuning dibawah mata. Tenggorokan merah. Bercak merah pada sisi dada. Kerah hitam lebar melewati dada atas dan sisi kepala sampai mata. Setrip hitam yang kedua melewati mata.
Iris coklat, paruh hitam, kaki-hijau zaitun suram.
Makanan: buah-buahan, Ficus, serangga.
Sarang berupa lubang pada pohon.
Telur berwarna putih, jumlah 2 butir.
Berbiak bulan April, Mei, Desember.
Habitat
Hutan dataran rendah dan pegunungan. Tempat lebih terang dan terbuka.
Tersebar sampai ketinggian 1.500 m dpl.
Penyebaran
Jawa, Bali
Penyebaran Lokal
Hutan primer, kawasan Gunung Ungaran.
Status
Penetap. Endemik. Mendekati terancam punah (Near threatened).
Jumlah dan frekuensi jarang.
Peringkat perjumpaan: (5) sangat sulit.

Dibawah ini foto Burung Takur Tulungtumpuk yang ada di Liberty Bird Farm

Burung Aneh dari Gunung Slamet

Hari ini tepatnya tanggal 29 September 2010 Liberty Bird Farm mendapat kiriman beberapa burung untuk menambah koleksi, antara lain Cucak Raja, Bango Tongtong dan satu burung yang belum diketahui jenis dan namanya. Oleh kami burung tersebut kami beri nama Ki Slamet, karena burung ini di dapat dari hutan di lereng gunung slamet. Burung ini aneh, makannya apoa saja pasti dimkana, nasi, jagung, jangkrik, tempe tahu, voer dll pasti ludes di makan. Nafsu makannya besar. Kami meng-upload gambar burung aneh tersebut dan barang kali ada kicau mania yang tahu Jenis dan nama burung ini, bisa comment di post ini.

Berikut foto burung tersebut: